Selasa, 05 April 2011

FOBIA


Fobia adalah ketakutan pada sesuatu yang sangat berlebihan dan lepas kendali.


1.   Denny adalah seorang anak laki-laki yang mengalami fobia pada anjing, baik anjing kecil maupun anjing besar, setiap ke sekolah dia minta diantar oleh ibunya karena tempat Denny ke sekolah pasti melawati rumah orang yang memiliki anjing. Denny tidak hanya takut pada anjing tapi suara anjing pun membuat detak jantung Denny  meningkat. Ini bermula ketika Denny masih kecil dan berada dikereta dorong, Denny dilompati seekor anjing walaupun tidak digigit tapi ini membuat Denny mengalami Fobia yang luar biasa pada anjing.  Hal ini membuat ibu Denny khawatir dan mengkonsultasikan pada therapis.
Dalam kasus ini yang pertama dilakukan adalah mengukur denyut jantung Denny, sebelum Denny diperlihatkan pada seekor anjing denyut jantungnya normal, setelah itu Denny diperlihatkan pada seekor anjing yang diikat tapi jaraknya lumayan dekat, dengan seketika denyut jantung Denny pun berdetak kencang dari pada sebelumnya, ketika anjing itu tidak diperlihatkan lagi pada Denny denyut jantungnya pun kembali normal seprti awal.
Pada pertemuan berikutnya Denny diajak kelapangan tempat anjing dilatih, pertamanya Denny sangat merasa tegang dan memegang tangan tertapis kemudian sang terapis meyakinkan pada Denny, bahwa anjing tidak akan menggitnya Denny lumayan tenang dan berani berdiri sendiri tanpa pegangan tangan sang terapis.
Pertemuan berikutnya terapis membawa Denny untuk lebih dekat dengan seekor anjing, Denny ditanya seberapa tingkat takutnya pada anjing antara 1-5, Denny menjawab 5, kemudian sang terapis memberi pengertian dan meyakinnkan Denny lagi kemudian Denny mau lebih dekat dengan anjing tersebut walaupun belum mau menyentuh, kemudian terapis menanyakan lagi berapa sekarang tingkat ketakutan Denny pada anjing, Denny menjawab 3, sang terapis kembali memberi pengertian dan meyakinkan Denny sampai akhirnya Denny berani memegang anjing, tidak hanya itu Denny juga berani bermain dengan anjing.

2.   Kasus kedua yaitu kasus fobia ketinggian yang dialami oleh seekor ajing kecil yang diberi nama Anggi, pemilik anjing merasa bermasalah ketika anjingnya tidak mau kalau di ajak naik ke suatu ketinggian, kemudian pemilik anjing mengkonsultasikan hal tersebut pada seorang terapis.
Tahap pertama anjing diajak naik ketempat yang tinggi awalnya sianjing tidak mau, tapi sang terapi tidak menghiraukan dan memaksa dengan pelan.
Tahap kedua ketika anjing itu mulai mau naik pada anak tangga pertama sang terapis memberi pujian pada anjing tersebut, begitu seterusnya sehingg anjing mau diajak jalan melalui jembatan gantung

3.   Kasus ketiga yaitu seorang wanita yang memiliki fobia takut menyetir kendaraan sendiri. Dia takut kalau terjadi kecelakaan yang nantinya akan merenggut nyawa keluarganya. Dia selalu menghindari yang berhubungan dengan kendaraan dan menyetir, sampai dia hanya berlibur di piggiran kota saja.
Pada kasus ini, terapis menerapkan terapi yang menghubungkan antara apa yang kita lihat dengan apa yang kita rasakan, yaitu Eye Movement Desensitization (EMDR). Di awal pertemuan pasien diminta untuk menggerakan matanya sesuai dengan lambaian tangan orang lain atau terapis. Hal ini dilakukan beberapa menit secara berulang-ulang, tujuan dari langkah ini adalah untuk membuat mata pasien sigap dan waspada dengan gerakan yang muncul dari orang lain serta berusaha mengurangi ketakutannya sedikit demi sedikit.
Hari berikutnya pasien diperlihatkan pada kereta api yang sedang berjalan dan juga diajak ke jalan raya untuk melihat dan mendengar mobil-mobil yang berjalan. Setelah itu kemudian pasien diminta mengendarai sendiri kendaraannya beberapa kali, hingga akhirnya pasien mampu mengendalikan rasa takutnya dan berhasil mengendarai kendaraan sendiri tanpa perlu takut lagi..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar